Menengok Makna Hakitat Peradaban di Hari Puisi Internasional

selamat-hari-puisi-internasionalAndhika Mappasomba Daeng Mammangka
(Penggiat Literasi dan Penulis Karya Sastra Sulsel)

Anak Sundala, Kongkong, Assu, Kurang Ajara!
Selamat Hari Puisi Internasional

Dari berbagai referensi yang saya baca, hari Puisi Internasional itu dicetusdeklarasikan oleh salah satu badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yakni UNESCO (the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) pada tahun 1999. Hal tersebut dilakukan pada sela pertemuan rutin Unesco di Paris.

Apa nilai yang bisa ditelisik pada tahun ini? Saya punya pandangan pribadi mengenai hal ini, sambil membolak-balik kata peradaban dalam pikiran saya.

Saya menemukan bahwa peradaban adalah sesuatu yang sangat agung. Keagungan yang saya maksudkan adalah bahwa peradaban mencakup seluruh unsur berkehidupan. Mulai dari urusan gedung besar hingga gedung kecil, mulai dari urusan berbangsa pada pemimpin tertinggi hingga terendah. Mulai dari etika bertetangga hingga hukum atau aturan internasional. Sistem ilmu pengetahuan dan perkembangannya. Itulah gambaran peradaban.

Peradaban adalah sebuah capaian baik di dalam berkehidupan sosial. Dia mengandung nilai kebaikan dan keteraturan yang indah. Keharmonisan yang mengalun bagai nada seruling atau biola. Dia meneduhkan, bukan menebarkan angkara murka.

Dalam momentum hari Puisi Internasional 2018 ini, saya ingin menilik pada persoalan bahasa. Bahasa? Sastra yang getar dan indah dianggap sebagai salah satu bagian dari maju mundurnya sebuah peradaban.

Mengutip salah satu ceramah Ustaz Abdul Shomad di Masjid Al Azhar Kampus Institute Seni Indonesia, Padang Panjang pada tanggal 7 Oktober 2017 yang menyebutkan bahwa peradaban bukan hanya diukur dari megahnya bangunan. Bangunan besar dan megah hanyalah sebagian dari peradaban. Lebih jauh, UAS menyebutkan bahwa sebuah bangsa yang memiliki peradaban musti dilihat sopan santun, tatakrama dan budi bahasa.

Pada budi bahasa ini menjadi bagian penting sebab dia merupakan roh dari peradaban sebuah komunitas. Budi bahasa yang tinggi adalah harapan yang diinginkan sebuah bangsa. Sebab dia adalah bahasa, maka dia sekaligus sebagai cermin dari sebuah komunitas atau masyarakat.

Peradaban yang mendahulukan Gedung Megah sesungguhnya adalah cerminan masyarakat yang memaknai budaya hanya pada batas materialistik. Bukan pada roh atau nilai budaya baiknya. Ibarat seorang gadis cantik atau lelaki tampan yang hanya mengutamakan make up, bedak, gincu, dan sebagainya. Bukan pada inners beauty-nya.

Jika memandang peradaban sebagai roh atau nilai dalam bahasa, kita akan tiba pada sebuah titik kesedihan melihat wajah lingkungan sosial kita. Kini, dimana-mana, khususnya yang saya simak secara pribadi pada perjalanan, telinga ini tak henti menemukan kata atau kalimat yang terpantul dari ruang sosial dan jalan raya, bagaimana masyarakat saling memaki-maki dengan bahasa sarkastik seperti;
"Anak Sundala"
"Kongkong"
"Assu"
"Cukimai"
"Tailaso"

dan beragam kata-kata sarkastik lainnya yang telah dianggap sebagai bahasa keseharian yang tak terpisahkan.

Bahkan, kata atau kalimat di atas bukan hanya ditemukan pada mulut masyarakat yang tak "sempat" berpendidikan. Kita juga kerap menemukan kata atau kalimat yang lebih buruk lagi dengan mengganti sebutan atau panggilan orang lain dengan nama-nama hewan seperti JONGA atau TEDONG. Sungguh sebuah kemunduran atau keburukan adab atau tatakrama dalam bahasa yang dipertontokan oleh pemimpin yang demikian.
Andhika Mappasomba Daeng Mammangka
Di hari puisi 2018 ini, semoga menjadi momentum yang baik untuk kita semua untuk merenung sejenak untuk menaikkan bahasa/meninggikan bahasa dengan isi yang lembut dan santun, penuh aura cinta dan kasih sayang.

Sebagai seorang muslim, sudah sepantasnyalah kita meniru kelembutan bahasa Nabi Muhammad, Salahuddin AL Ayyubi, Muhammad Al Fatih dan sebagainya. Meski mereka adalah penguasa, kalimat mereka penuh dengan kelembutan dan hati yang welas asih.

Pada akhirnya, semua akan mati. Gedung-gedung akan hancur. Gedung-gedung itu tak akan dibawa menyeberang ke akhirat. Kita hanya akan menyeberang ke akhirat dengan bahasa yang indah dan penuh keharuman mawar.

Sungguh menyedihkan sebuah bangsa yang penuh dengan sarkasme dan keburukan-keburukan perangai masyarakatnya yang dituntun oleh penguasa dan cendikiawannya.

Peradaban yang tinggi dan maju adalah peradaban yang penuh keindahan seni dan kedamaian. Gerak hati manusianya adalah perjalanan menuju kelembutan bahasa. bukan perjalanan menemukan dan menularkan kata; "Cukimai dan Anak Sundala"

Selamat Hari Puisi
Makassar, 21 Maret 2018